Tayangan :DD

Selasa, 10 Juli 2012

Naskah Drama Proklamasi

Wkwk
aku cuma mau nge-post naskah dramaku dan kelompok
enjoy :)



****************


Naskah Drama PKn “Peristiwa Sekitar Proklamasi”
Anggota:
01. Ahmad Abizar     (7D/01) 
à Drs. Moh. Hatta
02. Asty Annisawati  (7D/05) 
à Fatmawati
03. Asyam Irsyad      (7D/06) 
à Laksamana Maeda
04. Avi Rosyidah       (7D/08) 
à Narator 1
05. Debita Aisyiyah   (7D/10) 
à Wikana
06. Edo Fortuna        (7D/12) 
à Cudanco Singgih
07. Farhanah A.N     (7D/15) 
à Narator 2
08. Ian Reyhan J.     (7D/16) 
à Jiaw Siau Kong
09. Lidya Khamaira  (7D/18) 
à Sutan Sahrir
10. M. Muslih             (7D/20) 
à Sayuti Melik
11. Ragil Pinasti        (7D/23) 
à Jusuf Kunto
12. Reyhan Rizki       (7D/25) 
à Ir. Soekarno
13. Tsania Nurjihan  (7D/27) 
à Sukarni
14. Viona Faiqoh      (7D/29) 
à Ahmad Soebardjo
15. Zihny Ghassany (7D/31) 
à Chaerul Saleh
*Tanggal 10 Juli-14 Juli 1945, dibahas Rancangan Undang-Undang Dasar. Setelah selesai di bahas, maka Sidang kedua BPUPKI telah selesai.
*Tanggal 6 Agustus 1945, Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Korban berjatuhan dimana-mana (berhenti sejenak ada suara bom). Tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI dibubarkan, dan diganti dengan PPKI, dengan alasan tugas BPUPKI telah selesai. Tanggal 9 Agustus 1945, Jepang kembali dijatuhi bom atom oleh sekutu, tepatnya di kota Nagasaki (berhenti sejenak ada suara bom). Hal ini membuat Jepang kewalahan. Setelah peristiwa pengeboman, tiga tokoh Indonesia, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. Rajiman Wedyodiningrat dipanggil oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Di Dalat, Vietnam, Jenderal Terauchi memberikan tiga keputusan, yaitu, disetujuinya pembentukan PPKI, pengangkatan Ir. Soekarno sebagai ketua PPKI dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakil PPKI, dan kemerdekaan Indonesia tanggal 24 Agustus
*Tanggal 14 Agustus, Kaisar Hirohito memerintahkan perhentian permusuhan terhadap sekutu, setelah sebelumnya dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Berita genjatan senjata ini disiarkan melalui radio Jepang dari Tokyo. Rupanya, berita ini juga diketahui Sutan Sahrir
Sutan Sahrir   : Hei bung, apa kau tau jika Jepang sudah menyerah kepada sekutu?
Sukarni           : Benarkah itu Sahrir?
Sutan Sahrir   : Tentu saja. Aku mendengarnya dari radio dan dari status Jepang di facebook (menunjukkan status Jepang)
Sukarni           : Pesbuk itu apa? (dengan wajah bingung)”
Sutan Sahrir   : Masa begitu saja tidak tahu. NDESO. Facebook itu dunia maya
Sukarni           : Oh begitu, hehehe (walaupun sebenarnya tidak tahu dunia maya itu apa)
*Wikana yang sedari tadi mendengar percakapan antara Sukarni dan Sutan Sahrir, ikut membicarakan tentang kekalahan Jepang
Wikana           : Hei Sahrir, jika Jepang sudah kalah, apa yang harus kita lakukan?
Sutan Sahrir   : Tentu saja memproklamasikan kemerdekaan (dengan semangat membara). Saya akan menemui bung Hatta untuk menyampaikan berita ini (semangat)
Sukarni           : Semangat ya! Good Luck!
*Dengan semangat membara, Sutan Sahrir menemui Bung Hatta malam itu juga
Sutan Sahrir   : Assalamuaikum
Hatta               : Waalaikumsalam. Ada apa malam-malam begini kesini?
Sutan Sahrir   : Begini, (ehm-ehm dulu dan merapikan baju) saya mendengar bahwa Jepang telah menyerah tanpa syarat terhadap sekutu. Indonesia sedang kosong kekuasaan. Kini, kita yang berkuasa. Kita harus memproklamasikan kemerdekaan
Hatta               : Darimana kau tau tentang kekalahan Jepang?
Sutan Sahrir   : Aku mendengarnya dari salah satu radio dan status di facebook. Kebetulan radio itu tidak disegel. Jadi bagaimana ini?
Hatta               : Baiklah. Saya akan menanyakan ini kepada Gunseikanbu. Jika saya sudah yakin Jepang menyerah terhadap sekutu, baru saya akan mengambil tindakan lebih lanjut
Sutan Sahrir   : Baiklah. Kalau begitu, saya permisi dulu. Assalamualaikum
Hatta               : Waalaikumsalam
*Mendengar itu, semua pemuda mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Jalan Pegangsaan Timur no. 13, Jakarta. Rapat dilaksanakan pukul 20.30 waktu Jawa
Chaerul Saleh: Baiklah, tanpa basa-basi saya akan memberitahukan kepada kalian semua, bahwa kita semua akan ditraktir makan oleh sutradara kita...
Semua (kec.Wikana: Yee.. Makan-makan
Wikana           : Lho, salah. Bukan itu.. Yang satunya..
Chareul Saleh: Oiyaya.. Salah. Ehm, begini saya dengar dari Sutan Sahrir, bahwa bung Hatta akan menanyakan berita kekalahan Jepang kepada Gunseikanbu dulu. Bagaimana menurut kalian? (dengan nada dingin)
Jusuf Kunto   : Saya tidak setuju. Mengapa kita tidak langsung memproklamasikan kemerdekaan saja tanpa menunggu Bung Karno dan Bung Hatta? (penuh emosi)
Wikana           : Apa gunanya jika kita proklamasi? Proklamasi bukan apa-apa tanpa dua pemimpin itu!
Sukarni           : Saya setuju dengan Wikana!
*Akhirnya mereka semua adu mulut mempertahankan jawaban masing-masing. Dengan penuh emosi, Chaerul Saleh yang memimpin rapat menggebrak meja
Chaerul Saleh: Hei-hei! Tenang! Jika kita ribut seperti ini, kita tidak akan ditraktir makan sama sutradaranya
Semua            : (diam)
Chaerul Saleh: Eh, salah. Bukan itu.. Aduh, apa ya?
Semua            : (ramai lagi)
Chaerul Saleh: Hei tenang! Tadi sudah tenang, sekarang kok ribut lagi!
Jusuf Kunto   : Lho, tadi katanya tidak jadi.. Ya kita ribut aja lagi
Chaerul Saleh: Iya sih.. Tapi.. (tiba-tiba menggebrak meja) tapi jika kita ribut kita tidak menghasilkan apa-apa di rapat ini. Percuma! Saya harap semua tenang dan duduk kembali
Semua            : (duduk dengan tenang)
Chaerul Saleh: Baiklah, semua sudah tenang. Lalu bagaimana jadinya ini?
Sutan Sahrir   : Saya punya pendapat (mengajungkan tangan)
Chaerul Saleh: Ya. Silahkan (mempersilahkan Sutan Sahrir mengemukakan pendapat) Sutan Sahrir            :Kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat sendiri, tak dapat digantungkan pada orang atau negara lain. Segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang harus diputuskan dan sebaliknya diharapkan adanya perundingan dengan golongan muda agar diikutsertakan dalam proklamasi
Chaerul Saleh: Saya setuju dengan kau, Sahrir. Kita harus menyampaikan ini kepada Bung Karno malam ini juga
Sukarni           : Siapa yang akan menemui Bung Karno?
Wikana           : Saya saja
Chaerul Saleh: Baiklah. Temui Bung Karno sekarang juga
*Wikana segera pergi menemui Bung Karno di rumahnya, di Jalan Pegangsaan Timur no. 56 pada pukul 22.30 waktu Jawa
Tok..tok..tok..
Wikana           : Permisi... Spada... Assalamualaikum
Fatmawati      : (membukakan pintu) Waalaikumsalam. Ada apa ini? Kenapa malam-malam kesini?
Wikana           : Begini, saya ingin menemui Bung Karno. Apa bisa saya menemuinya?
Fatmawati      : Ah, kebetulan sekali. Dia sedang bersantai di ruang keluarga. Mari masuk (mempersilahkan masuk)
Wikana           : (masuk dan duduk di kursi bambu di ruang tamu)
*Fatmawati menemui Bung Karno yang sedang minum kopi di ruang tengah
Fatmawati      : Maaf, menggangu acara minum kopinya. Itu, di ruang tamu ada yang ingin bertemu
Soekarno       : Siapa?
Fatmawati      : Wikana
Soekarno       : (beranjak dari kursi dan menemui Wikana)
*Di ruang tamu, Wikana menunggu dengan harap cemas
Soekarno       : Ada apa malam-malam begini menemui saya?
Wikana           : Sebaiknya kita segera memproklamasikan kemerdekaan dengan segera
Soekarno       : Apa maksudmu?
Wikana           : Begini, saya mendengar berita kekalahan Jepang dari salah satu radio luar negeri dan facebook. Indonesia sedang dalam kekosongan kekuasaan. Mengapa tak kita manfaatkan waktu ini untuk memproklamasikan kemerdekaan?
Soekarno       : Saya tidak bisa. Saya harus menemui anggaota PPKI yang lainya dan saat saya menemui Marsekal Terauchi di Dalat, dia mengatakan bahwa kita merdeka tanggal 24Agustus
Wikana           : (mulai emosi) jika kita menunggu anggota PPKI yang lain, maka kita harus menunggu lebih lama lagi untuk merdeka. Kita tak tau kapan sekutu mengambli alih Indonesia. Dan soal kemerdekaan tanggal 24 Agustus itu berarti kita merdeka bukan karena jerih payah kita! Tapi, hadiah! Apa kau tak malu dicemooh negara lain bahwa kita merdeka itu hadiah?!
Soekarno       : Apa salahnya kita menunggu sedikit lagi, Wikana?
Wikana           : Ah sudahlah. Jika kau tak mau memproklamasikan kemerdekaan, maka akan terjadi pertumpahan darah! (mengancam)
Soekarno       : (emosi) sudahlah, sebaiknya kamu pergi dari rumah saya!
Wikana           : Baiklah. Permisi!
Soekarno       : (mengela napas dan duduk di kursi dengan lemas)
*Fatmawati yang melihat Bung Karno lemas, segera menghampiri Bung Karno
Fatmawati      : Sudahlah, tak usah dipikirkan. Memang, mereka adalah golongan muda. Anak muda yang penuh emosi. Maklumilah saja (berusaha menenangkan Bung Karno)
Soekarno       : Terima kasih. Tapi, jika sampai terjadi pertumpahan darah, apa yang harus saya lakukan?
Fatmawati      : Sudahlah, semua pasti ada jalan keluarnya
*Wikana pulang dengan perasaan marah dan kesal. Dia memikirkan perkataan Bung Karno dan Bung Hatta. Akhirnya, dia mengadakan rapat lagi. Dan kini, Singgih hadir dalam rapat
Wikana           : Apa maksud perkataan Bung Karno dan Bung Hatta? Mengapa mereka menolak untuk memproklamasikan kemerdekaan? Apa mereka tidak mau merdeka?! (dengan penuh amarah)
Jusuf Kunto   : Sekarang kita harus mengambil tindakan
Singgih           : Ya. Saya punya usul untuk ini
Sutan Sahrir   : Apa itu?
Singgih           : Kita harus menyingkirkan Bung Karno dan Bung Hatta ke luar kota untuk menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang
Jusuf Kunto   : Saya setuju. Tapi kemana kita harus mengungsikan mereka?
Siggih             : Bagaimana kalau ke Rengasdengklok?
Sukarni           : Rengasdengklok itu apa to?
Chaerul Saleh: Itu sebuah daerah di Utara Kabupaten Karawang. Gitu saja tidak tahu. NDESO
Sukarni           : (ber hehehe ria)
Singgih           : Jadi bagaimana ini?
Sutan Sahrir   : Saya setuju denganmu. Mari kita laksanakan rencana ini
*Rencana ini berjalan lancar karena mendapatkan dukungan perlengkapan Tentara PETA dari Cudanco Latief Hendradiningrat. Pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30 waktu Jawa, sekelompok pemuda membawa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke Rengasdengklok
Tok..tok..tok
Singgih           : Assalamualaikum
Fatmawati      : Waalaikumsalam. Lho, ada apa ini kesini ramai-ramai? (kebingungan)
Jusuf Kunto   : Kami ingin bertemu Bung Karno
Fatmawati      : Oh, masuk dulu
Jusuf Kunto   : Tidak perlu. Kami hanya sebentar
Fatmawati      : Kalau begitu, saya panggilkan bapak dulu
*Tak lama kemudian, keluar seorang pria yang gagah berwibawa
Soekarno       : Ada apa  ini?
Wikana           : Anda harus ikut kami (dengan paksa)
Yang Lain      : (menyeret Bung Karno)
Soekarno       : Hei, apa-apaan ini! Lepaskan saya! (memberontak)
Singgih           : Tidak akan! (sambil menodongkan pistol)
Fatmawati      : Apa yang kalian lakukan? Lepaskan! (berusaha melerai)
Singgih           : Tidak!
*Di tengah-tengah kerusuhan, Bung Hatta datang dengan maksud membicarakan tentang kekalahan Jepang
Hatta               : Assalamualaikum. Lho-lho, ada apa ini? Kenapa ada pistol segala?
Wikana           : Cepat tangkap Bung Hatta juga!
Sukarni           : Sekarang?
Wikana           : Nggak, tahun depan! Ya sekarang lah!
*Sukarni dengan dibantu .. he, sopo jenengmu? (menunjuk Sutan Sahrir)
Sutan Sahrir   : Sutan Sahrir orang paling cakep se-dunia. Masa’ nggak kenal sama orang cakep. Yo opo seh? Narator nggak nggenah
*Hehehe .. Sorry reek. Saya ulangi. Sukarni dengan dibantu Sutan Sahrir orang paling cakep menangkap Hatta
Hatta               : Lepaskan aku! (berusaha meloloskan diri)
Sutan Sahrir   : Tidak akan! Sukarni, tolong ambilkan pistol di sakuku ini!
Sukarni           : Saku mana?
Sutan Sahrir   : Saku celana! Cepat!
Sukarni           : (mencari-cari pistol di saku celana Sutan Sahrir)
Ini (menyerahkan kepada Sutan Sahrir)
Sutan Sahrir   : Ini pisang untuk monyetku. Bagaimana kamu ini?!
Sukarni           : Lho, tadi katanya disuruh ambil pisang. Piye to? (polos)
Sutan Sahrir   : Pisang? Pistol! Dasar TBC
Sukarni           : Yaiyalah TBC, Tambah mBois Cakep (menggaya)
Sutan Sahrir   : Bukan TBC yang itu (gemes). Tapi TBC Telinga Budeg Cese (baca: Telinga Budeg Sese). Sudah, ambilkan pistol
Sukarni           : (mencari-cari) ini
Chaerul Saleh: Cepat bawa Bung Karno dan Bung Hatta!
Soekarno       : Fatmawati, jangan lupa sms aku, nanti kita calling-callingan ya disana. Nanti kamu online juga ya?
Fatmawati      : Iya (pasrah)
Chaerul Saleh: Ayo, cepat bawa
*Tempat yang dituju merupakan kedudukan sebuah cudan (kompi) tentara PETA
**Heh.. kok PETA sih.. Itu kan PETA gambar permukaan bumi. Yang dimaksud PETA Pembela Tanah Air. Gitu saja tidak tahu. NDESO!
*Ya sudah, saya ulang. Tempat yang dituju merupakan kedudukan sebuah cudan (kompi) tentara PETA Rengasdengklok dengan Komandannya Cudanco Subeno. Di sana, Bung Karno dan Bung Hatta bertemu dengan pemilik rumah, Jiaw Siau Kong, tempat dimana mereka diamankan
Soekarno       : (duduk lesu) ah, mengapa bisa seperti ini? Mengapa jadi kacau?
Hatta               : Sudahlah. Setiap masalah pasti ada jalan keluar
Siau                : Ah, Bung Karno dan Bung Hatta, kalian ingin makan dan minum apa? Di rumah saya tersedia berbagai macam makanan dan minuman. Mulai dari makanan barat, sampai lokal. Anda pesan apa?
Soekarno       : Saya minta yang sederhana, yaitu spaghetti dan soft drink saja
Siau                : Gitu bilangnya sederhana. Itu tidak sederhana
Soekarno       : Hehehe
Siau                : (mecatat) anda bung?
Hatta               : Saya juga sama
Siau                : Baiklah, tunggu sebentar ya. Jika anda membutuhkan saya, saya selalu siap sedia. Cukup tepuk tangan tiga kali (memperagakan). Dan saya akan segera datang. (berbalik arah)
Soekarno       : (tepuk tangan tiga kali)
Siau                : Ada apa?
Soekarno       : Eh, Siau. Apa kau punya laptop, modem, dan handphone?
Siau                : Saya punya. Untuk apa?
Soekarno       : Untuk mengabari istri saya. Boleh kan?
Siau                : Boleh. Sebentar saya ambilkan
(tak berapa lama kemudian) ini bung
Soekarno       : Ah, terima kasih.
Hatta, apa kau ingat nomor hp Fatmawati?
Hatta               : Kau ini bagaimana, nomor hp istri sendiri saja tak ingat. 085730448283
Soekarno       : Terima kasih, Hatta
*Sementara itu di Jakarta, para anggota PPKI yang diundang rapat pada tanggal 16 Agustus memenuhi undanganya dan berkumpul di Gedung Pejambon 2. Tetapi, rapat itu tidak dihadiri pengundangnya, yaitu Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta. Para hadirin rapat merasa heran, dan satu-satunya jalan untuk mengetahui dimana Sung Karno dan Bung Hatta sekarang melalui Wikana, yang merupakan orang yang bersitegang dengan Bung Karno dan Bung Hatta pada malam sebelumnya. Mr. Ahmad Soebardjo segera menemui Wikana
Soebardjo      : Wikana, katakan dimana Bung Karno dan Bung Hatta sekarang?
Wikana           : Apa maksudmu?
Soebardjo      : Kau tahu? Hari ini harusnya PPKI rapat. Tapi, Bung Karno dan Bung Hatta tidak datang. Saya dengar, kamu adalah orang yang bersitegang dengan dua pemimpin itu. Katakan dimana mereka?
Wikana           : Apa kau menuduhku?!
Soebardjo      : Tidak, tapi ini fakta! Katakan dimana mereka!
Wikana           : Tidak mau (lari)
Soebardjo      : (berusaha mengejar)
dimana mereka?
Wikana           : Tidak akan saya beritahu. Mereka sedang saya amankan di Rengasdengklok. Ups... (keceplosan)
Soebardjo      : Apa katamu? Di Rengasdengklok? Mereka kau apakan?
Wikana           : Saya ingin menghindarkan mereka dari pengaruh Jepang. Jika mereka di Rengasdengklok, maka tidak ada yang bisa mempengaruhi mereka
Soebardjo      : Pengaruh apa?
Wikana           : Mereka tidak mau memproklamasikan kemerdekaan. Mungkin, dengan mereka di Rengasdengklok mereka mau memproklamasikan kemerdekaan
Soebardjo      : Baiklah jika itu maumu. Kembalikan mereka ke Jakarta, proklamasi harus di Jakarta. Jika seandainya besok kita tidak memproklamasikan kemerdekaan, maka, nyawa saya yang akan menjadi taruhannya
Wikana           : Baiklah, saya setuju.
Jusuf Kunto(dengan isyarat)
Jusuf Kunto   : (muncul) ada apa bung?
Wikana           : Tolong antarkan Mr. Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok untuk menjemput Bung Karno dan Bung Hatta
Jusuf Kunto   : Siap!
*Mr. Ahmad Soebardjo dan Jusuf Kunto berangkat ke Rengasdengklok untuk menjemput dua pimpinan besar. Mereka tiba di Rengasdengklok pukul 18.00 waktu Jawa. Mr. Ahmad Soebardjo berjanji akan memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus sebelum pukul 12.00, maka Bung Karno dan Bung Hatta dibebaskan dan kembali lagi ke Jakarta. Mereka sampai di Jakarta pukul 23.30 waktu Jawa
Soekarno       : Dimana kita akan menyusun naskah proklamasi?
Jusuf Kunto   : Tentu saja dirumah anda
Hatta               : Jangan. Jika kita menyusun naskah proklamasinya di rumah Bung Karno, tentara Jepang pasti akan curiga dan akan ada kerusuhan
Sukarni           : Kalau begitu dimana kita akan menyusun naskah proklamasi?
Soebardjo      : Bagaimana kalau di rumah Laksamana Maeda. Kebetulan dia juga sahabat saya dan dia adalah orang yang mendukung kemerdekaan Indonesia
Soekarno       : Saya setuju. Ayo antarkan kita ke sana
*Mereka menuju rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol no. 1
Tok...tok...tok
Soebardjo      : Spada....
Maeda                        : (membukakan pintu) lho ternyata kamu Soebardjo. Ono opo?
Soebardjo      : Ini, saya mau meminjam rumahmu untuk menyusun naskah proklamasi. Bolehkah?
Maeda                        : Tentu saja. Kowe lan liyane oleh nyilih omahku. Aku yo njamin kowe lan liyane slamet
Sukarni           : (bisik-bisik kepada Bung Karno) Kok aneh ya? Orang Jepang bisa bahasa jawa?
Soekarno       : Lha ya ndak tau aku
Maeda                        : Monggo.. Aku tak turu ndek dhukur kowe ndek ngisor nyusun naskah wae. Yo opo? Setuju ta ora?
Soebardjo      : Oh, setuju. Maaf kalau mengganggu
Maeda                        : Ora opo-opo
Sukarni           : Nyuwun sewu Laksamana Maeda. Anda orang Jepang tapi bisa berbahasa jawa. Bagaimana ceritanya? (bertanya penuh selidik)
Maeda                        : Oh, saya sangat mencintai bahasa jawa
Soebardjo      : Baiklah, mari kita menyusun naskah proklamasi
Maeda                        : Yowis. Aku turu bae
*Laksamana Maeda menuju lantai atas untuk tidur, sementara para pejuang menyusun naskah proklamasi di lantai bawah. Soekarno yang menulis naskah proklamasi, Drs. Moh. Hatta dan Mr. Ahmad Soebardjo yang menyumbangkan pikiran secara lisan. Pukul 04.30 waktu jawa naskah selesai disusun. Selanjutnya, mereka menuju serambi muka untuk menemui yang lain untuk membacakan konsep naskah proklamasi
Soekarno       : Saya sudah membuat konsep naskah proklamasi, saya akan membacakanya. (selesai membacakan konsep naskah) Ah, saya minta kepada anda semua untuk menandatangani naskah ini selaku wakil-wakil Bangsa Indonesia
Sutan Sahrir   : Untuk apa kita semua menandatanganinya?
Hatta               : Selaku wakil bangsa. Ini seperti naskah Declaration of Independence dari Amerika Serikat
Wikana           : Saya menentang terhadap keputusan anda. Anda seperti budak Jepang!
Sukarni           : Ya. Mengapa tak atas nama Bangsa Indonesia saja dan anda berdua selaku pemimpin besar yang menandatanganinya?
Soekarno       : Baiklah jika itu mau kalian. Saya akan merubahnya
(setelah dirubah, meminta Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi)
Sayuti Melik, ayo bangun. Kalau kau tak melek kau tak bisa mengetiknya
Sayuti Melik   : (mengigau) aduh mak. Ini masih subuh, sekolah masih nanti mak. Aku masih mengantuk
Soekarno       : Heh, aku bukan makmu!
Sayuti Melik   : Emak kok suaranya jantan?
Soekarno       : Ayo bangun (menyiram dengan air)
Sayuti Melik   : (bangun dan kaget)Lho, bung Karno. Saya kira emak
Soekarno       : Enak saja! Sudah ketik ini pakai laptop
Sayuti Melik   : Bung, zaman sekarang itu belum ada laptop
Soekarno       : Kamu itu gimana sih. Di adegan status Jepang sama adegan yang saya diamankan di Rengasdengklok saja ada laptop. Masa’ di adegan kita yang super keren ini tidak ada? Kita kan canggih
Sayuti Melik   : Oiyaya. Waah, sutradaranya kok nggak adil (mengenyek). Ya sudah, saya ketikan
(membaca sekilas dan mulai mengetik, ketika sampai kata tempoh) bung, bagaimana kalau kata tempoh ini saya ganti tempo?
Soekarno       : Terserah kamu saja, Lik
Sayuti Melik   : (tak berapa lama kemudian) ini jadi diganti atas nama Bangsa Indonesia? Oya, kata-kata Djakarta, 17-08-05 saya ganti Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05?
Soekarno       : Baiklah. Terserah kamu wae
Sayuti Melik   : Ini sudah selesai. Ayo kita temui yang lain
(menemui yang lain) Saya sudah selesai mengetik. (menyerahkan hasil ketikan kepada Singgih)
Singgih           : (membacakan naskah) “Untuk sayangku di rumah....” Lho, apa ini?
Sayuti Melik   : Oh, salah. Itu surat untuk istri saya. (mencari yang asli) Ini (menyerahkan yang asli)
Chaerul Saleh: Lalu dimana kita akan memproklamasikan kemerdekaan?
Sutan Sahrir   : Di Lapangan IKADA
Soekarno       : Jangan. Jika kita proklamasi di sana, bisa bentrok dengan tentara Jepang
Sutan Sahrir   : Betul juga. Lalu dimana?
Soekarno       : Di rumah saya saja
Yang Lain      : Setuju
Chaerul Saleh: Kita proklamasi pukul 10.30 waktu Jawa saja. Apa anda semua setuju?
Yang Lain      : Tentu saja
Hatta               : Saya akan meminta para pemuda yang bekerja di kantor berita dan pers, terutama B.M. Diah untuk memperbanyak teks proklamasi dan menyebarkanya ke seluruh dunia
Singgih           : Ide yang bagus bung
Soebardjo      : Sudah pukul 05.00, ayo pulang. Kasihan Maeda, kita ribut disini dan mengganggu istirahatnya. Mari pulang ke rumah masing-masing
Maeda, kami sangat berterima kasih atas pinjaman tempatnya dan telah menjamin keamanan kami
Maeda                        : Sami-sami. Aku melu seneng kalau Indonesia merdeka
Soebardjo      : Terima kasih. Kami kembali dulu
Maeda                        : Sami-sami. Ati-ati ing dalan (berjabat tangan dengan Soebardjo)
* Pagi hari itu, rumah Soekarno dipadati oleh sejumlah massa muda yang baris dengan tertib. Segala sesuatunya telah dipersiapkan. Mulai dari keamanan, pengeras suara, penyiapan tiang bendera, sampai bendera merah putih telah dipersiapkan secara matang. Menjelang pukul 10.30 waktu Jawa (jika dalam WIB pukul 10.00), para tokoh berdatangan, seperti Mr. A.A Maramis, Ki Hajar Dewantara, dll. 5 menit sebelum acara, Bung Hatta datang dengan pakaian putih-putih
Hatta               : Saya belum terlambat kan? (dengan ngos-ngosan)
Soekarno       : Belum. Kenapa kamu ngos-ngosan?
Hatta               : Ban sepeda saya kempes. Jadi, saya lari-lari menuju sini
Soekarno       : (hanya tersenyum mendengar jawaban Hatta)
*Pukul 10.30 waktu Jawa, Soekarno membacakan naskah proklamasi (berhenti sejenak dan membacakan naskah proklamasi) setelah sebelumnya ada pidato singkat darinya. Setelah pembacaan naskah proklamasi, secara serentak para hadirin tanpa dikomando menyanyikan lagu “Indonesia Raya” (menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan iringan). Ya, Indonesia memang telah merdeka dan terbebas dari belenggu penjajah...

-Tamat-



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar